Masa depan desa, akankah menjanjikan?

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-7203139646965728"
     crossorigin="anonymous"></script>



 

Sebagai Sarjana Pertanian yang telah selesai sidang akhir di bulan april dan rencana wisuda di bulan ini, saya masih merasa dilema dengan apa yang harus diputuskan pasca wisuda nanti. Di satu sisi saya merasa kapasitas saya belum memadai sebagai sarjana dan berencana untuk mengambil beberapa khursus yang diminati, di sisi lain saya ingin punya usaha yang ingin mulai di rintis pasca wisuda. Walau memang usaha tersebut merupakan kerjasama dengan teman seperjuangan kuliah, tetapi saya ingin mempelajari skill yang saya kira mampu melengkapi apa yang ingin saya capai di masa depan nanti. Namun semakin dewasa tentu hidup akan semakin realistis,tawaran kerja sama dengan teman itu tidak bisa dianggap sebagai hal kecil, kami secara umum memiliki sudut pandang yang sama bahwa ada hal yang perlu dirintis dari sekarang.

Nampaknya semakin nyata, peluang dan kesempatan kerja begitu sempit jika sadar akan kapasitas diri. Konten yang begitu tersebar tentang sulitnya persaingan kerja membuat saya khawatir, begitu seramkah dunia kerja nanti?. Begitupun dunia usaha, saya sudah sering melihat ada berbagai toko, restorant, hingga ruko dari beragam industri harus tutup karena tidak sesuai ekspektasi. Gambaran tentang persaingan yang begitu ketat sudah terwakilkan dengan beragam series di TV yang masih eksis hingga saat ini. Pemilu yang akan hadir di tahun depan pun menjadi momentum para calon pewaris tahta Republik ini untuk mengumbar janji dan optimisme bahwa lapangan kerja bisa disediakan jika sang calon terpilih.

Rasanya sudah tidak heran kalau tujuan orang merantau dari kawasan desa ke kota hanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. bukan hanya untuk motif ekonomi semata, keinginan untuk melihat dunia luar supaya mendapatkan banyak khazanah pengetahuan bukan hal yang salah. Karena saya pernah membaca sebuah nasihat yang berbunyi “ merantaulah, mereka yang berilmu dan beradab tidak tinggal diam dikampung halaman” setelah saya cermati, nasihat ini sangat benar untuk dijadikan pedoman petualangan hidup. setiap kita memutuskan untuk menjamah wilayah baru, rasanya akan ada ilmu dan pengalaman hidup baru yang di dapat. Beragam daerah tentu akan memiliki karakter dan budaya yang berbeda-beda. Semakin banyak kita menjangkau banyak hal, maka kita akan semakin bijak dalam menyikapi persoalan. Bukankah begitu?

Namun rasanya narasi tentang migrasi selalu bermakna tentang perpindahan penduduk desa ke kota. Setimpang itukah desa dibandingkan dengan kota?apa tidak ada penghidupan yang lebih di desa hingga harus menumpuk menggapai seluruh pencapaian hidup di kota?rasanya tidak selalu. Faktanya, orang kota pun di fase lansianya sudah banyak yang memikirkan untuk melanjutkan hidup di masa tua secara tenang dengan melakukan investasi berupa lahan dan properti untuk melanjutkan hidup di desa. Sementara untuk orang-orang di muda, merantaunya mereka ke kota memang untuk melakukan proses hidup lebih matang dan melatih hidup mandiri. Karena tidak bisa kita pungkiri, jika tentang pendidikan dengan kualitas baik dan membuka wawasan tentang beragam industri memang kawasan kota tempat yang tepat.

Memang siklus itu lumrah jika terus terjadi, hanya sebaiknya mungkin dilakukan penyempurnaan sistem agar potensi manusia dan alam Indonesia lebih dapat maksimal hasilnya. Misalnya, arah pembangunan desa bukan hanya tentang perbaikan infrastruktur jalan penghubung antar wilayah, tetapi juga membangun aspek-aspek yang mampu mengelola sumber daya alam desa seperti alat produksi industri, bantuan tenaga ahli dari pemerintah untuk melakukan pendampingan, hingga peningkatan fasilitas dan infrastruktur akses digital. Aspek-aspek tersebut setidaknya harus siap jika ingin membangun roda perekonomian yang lebik baik di desa.

Pemuda yang ingin memiliki kisah hidup dengan merantau seperti saya akan sangat banyak jumlahnya. Ilmu pengetahuan yang belum mencapai rasa puas, kemandirian hidup yang ingin di bangun sejak muda, seharusnya dibiarkan mengalir dan tidak bisa dibatasi cakupannya. Biarkan kami menjelajah dunia untuk mencari tahu banyak hal. Namun masalahnya, wajibkah kita kembali untuk membangun daerah yang telah menjadi wadah hidup dari kecil hingga dewasanya?bagi saya, itu merupakan sebuah pilihan dan tidak bisa di label sebagai kewajiban. Mungkin saja selama proses menjelajah itu, pemuda lebih menemukan tempat yang menghargai dan cocok secara sosial budayanya. Tidak ada yang bisa memaksanya kecuali ada sebuah ikatan kontrak. Misalnya, seorang pemuda menempuh pendidikan tinggi di luar daerah dengan tunjangan biaya dari pihak atau institusi di daerahnya. Hal itu tentu wajib bagi pemuda tersebut untuk kembali dan mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat.

Namun jika membahas haruskah perantau kembali pada tempat asalnya, itu hanya masalah moral dan panggilan hati nurani. Tempat asal yang telah memberikan ruang hidup siapapun yang sedang dalam kondisi merantau saat ini harus menjadi ingatan bahwa itu adalah rumahnya. Tempat asalmu adalah saksi tumbuh dan berkembangnya mereka dari kecil hingga dewasa. Sehingga sudah selayaknya buat para perantau untuk mampu berkontribusi untuk pembangunan tempat asalnya. Jika memang sudah ada jenjang karir di tanah rantau yang lebih baik, tentu kita harus tetap mengalokasikan kehidupan kita untuk mampu membantu tempat asal kita, begitupun dengan perantau yang berasal dari desa.

Desa bukanlah wilayah yang mungkin tidak banyak institusi pendidikan yang lebih berkualitas daripada kota, namun desa tetap dibutuhkan sebagai kawasan yang akan mejadi objek riset institusi pendidikan di kota. Masyarakat desa juga mungkin tidak memiliki karakteristik glamor dan hedonis seperti di kawasan kota, namun masyarakatnya akan punya cara tersendiri dalam membuat kebahagian dalam hidup. Artinya baik desa maupun kota sama saja, akan tetap ada kelebihan dan kekurangannya. Tinggal bagaimana kita melihat dari sudut pandang seperti apa untuk bisa memaksimalkan potensi yang ada.

Memang pada umumnya, desa memiliki roda perekonomian dengan basis agraris. Siklus perekonomiannya berpacu pada pengolahan sumber daya alam meliputi pertanian, perikanan, hingga peternakan. Namun, bisakah desa dikembangkan dengan hal lain?tentu sangat bisa. Para pelajar dari desa yang merantau ke kota tentu akan lebih paham tentang hadirnya industri kreatif. Industri yang berbasis pada ide dan gagasan sebagai ekosistem perekonomiannya sangat berpotensi untuk generasi muda di desa. Industri kreatif memiliki beberap subsektor yang terdiri dari pengembangan permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fashion, kuliner, film dan animasi, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi ini bisa menjadi kegemaran baru buat pemuda di desa. Dengan begitu, dalam tahap pengenalan kegemaran baru yang dapat meningkatkan kreativitas tidak perlu jauh merantau terlebih dahulu. Cukup hadirnya program dan pembangunan infrastruktur sederhana demi merintis ekosistem industri kreatif di desa.

Di masa yang akan datang, desa akan semakin berbasis digital sebagai upaya pemasaran produk desa yang lebih luas. Artinya, potensi lapangan kerja di desa akan semakin besar. Maka dari itu, konsep migrasi dan merantau harusnya mulai secara perlahan dirubah. Bukan lagi hanya terpusat dengan pola dari desa ke kota, tapi bisa dari desa ke desa atau bahkan dari kota ke desa. Meskipun era industri semakin berubah kea ranah manufaktur atau sektor non agraris, kita sebagai manusia yang lahir dan besar di Indonesia harus sadar bahwa identitas tanah Nusantara ini adalah agraris. Mari mulai berfikir dan merencanakan untuk bisa membangun desa untuk meningkatkan kesejahteraan yang menjadi impian luhur yang akan selalu di perjuangkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Technic Series : Sistem of Rice Intensification (SRI)