Masa depan desa, akankah menjanjikan?
Sebagai
Sarjana Pertanian yang telah selesai sidang akhir di bulan april dan rencana
wisuda di bulan ini, saya masih merasa dilema dengan apa yang harus diputuskan
pasca wisuda nanti. Di satu sisi saya merasa kapasitas saya belum memadai
sebagai sarjana dan berencana untuk mengambil beberapa khursus yang diminati,
di sisi lain saya ingin punya usaha yang ingin mulai di rintis pasca wisuda.
Walau memang usaha tersebut merupakan kerjasama dengan teman seperjuangan
kuliah, tetapi saya ingin mempelajari skill yang saya kira mampu melengkapi apa
yang ingin saya capai di masa depan nanti. Namun semakin dewasa tentu hidup
akan semakin realistis,tawaran kerja sama dengan teman itu tidak bisa dianggap
sebagai hal kecil, kami secara umum memiliki sudut pandang yang sama bahwa ada
hal yang perlu dirintis dari sekarang.
Nampaknya
semakin nyata, peluang dan kesempatan kerja begitu sempit jika sadar akan
kapasitas diri. Konten yang begitu tersebar tentang sulitnya persaingan kerja
membuat saya khawatir, begitu seramkah dunia kerja nanti?. Begitupun dunia
usaha, saya sudah sering melihat ada berbagai toko, restorant, hingga ruko dari
beragam industri harus tutup karena tidak sesuai ekspektasi. Gambaran tentang
persaingan yang begitu ketat sudah terwakilkan dengan beragam series di TV yang
masih eksis hingga saat ini. Pemilu yang akan hadir di tahun depan pun menjadi
momentum para calon pewaris tahta Republik ini untuk mengumbar janji dan
optimisme bahwa lapangan kerja bisa disediakan jika sang calon terpilih.
Rasanya
sudah tidak heran kalau tujuan orang merantau dari kawasan desa ke kota hanya
untuk mencari kehidupan yang lebih baik. bukan hanya untuk motif ekonomi
semata, keinginan untuk melihat dunia luar supaya mendapatkan banyak khazanah
pengetahuan bukan hal yang salah. Karena saya pernah membaca sebuah nasihat
yang berbunyi “ merantaulah, mereka yang
berilmu dan beradab tidak tinggal diam dikampung halaman” setelah saya
cermati, nasihat ini sangat benar untuk dijadikan pedoman petualangan hidup.
setiap kita memutuskan untuk menjamah wilayah baru, rasanya akan ada ilmu dan
pengalaman hidup baru yang di dapat. Beragam daerah tentu akan memiliki karakter
dan budaya yang berbeda-beda. Semakin banyak kita menjangkau banyak hal, maka
kita akan semakin bijak dalam menyikapi persoalan. Bukankah begitu?
Namun
rasanya narasi tentang migrasi selalu bermakna tentang perpindahan penduduk
desa ke kota. Setimpang itukah desa dibandingkan dengan kota?apa tidak ada
penghidupan yang lebih di desa hingga harus menumpuk menggapai seluruh
pencapaian hidup di kota?rasanya tidak selalu. Faktanya, orang kota pun di fase
lansianya sudah banyak yang memikirkan untuk melanjutkan hidup di masa tua
secara tenang dengan melakukan investasi berupa lahan dan properti untuk
melanjutkan hidup di desa. Sementara untuk orang-orang di muda, merantaunya
mereka ke kota memang untuk melakukan proses hidup lebih matang dan melatih
hidup mandiri. Karena tidak bisa kita pungkiri, jika tentang pendidikan dengan
kualitas baik dan membuka wawasan tentang beragam industri memang kawasan kota
tempat yang tepat.
Memang
siklus itu lumrah jika terus terjadi, hanya sebaiknya mungkin dilakukan
penyempurnaan sistem agar potensi manusia dan alam Indonesia lebih dapat
maksimal hasilnya. Misalnya, arah pembangunan desa bukan hanya tentang
perbaikan infrastruktur jalan penghubung antar wilayah, tetapi juga membangun
aspek-aspek yang mampu mengelola sumber daya alam desa seperti alat produksi
industri, bantuan tenaga ahli dari pemerintah untuk melakukan pendampingan,
hingga peningkatan fasilitas dan infrastruktur akses digital. Aspek-aspek
tersebut setidaknya harus siap jika ingin membangun roda perekonomian yang
lebik baik di desa.
Pemuda
yang ingin memiliki kisah hidup dengan merantau seperti saya akan sangat banyak
jumlahnya. Ilmu pengetahuan yang belum mencapai rasa puas, kemandirian hidup
yang ingin di bangun sejak muda, seharusnya dibiarkan mengalir dan tidak bisa
dibatasi cakupannya. Biarkan kami menjelajah dunia untuk mencari tahu banyak
hal. Namun masalahnya, wajibkah kita kembali untuk membangun daerah yang telah
menjadi wadah hidup dari kecil hingga dewasanya?bagi saya, itu merupakan sebuah
pilihan dan tidak bisa di label sebagai kewajiban. Mungkin saja selama proses
menjelajah itu, pemuda lebih menemukan tempat yang menghargai dan cocok secara
sosial budayanya. Tidak ada yang bisa memaksanya kecuali ada sebuah ikatan
kontrak. Misalnya, seorang pemuda menempuh pendidikan tinggi di luar daerah
dengan tunjangan biaya dari pihak atau institusi di daerahnya. Hal itu tentu
wajib bagi pemuda tersebut untuk kembali dan mengaplikasikan ilmu yang sudah
didapat.
Namun
jika membahas haruskah perantau kembali pada tempat asalnya, itu hanya masalah
moral dan panggilan hati nurani. Tempat asal yang telah memberikan ruang hidup
siapapun yang sedang dalam kondisi merantau saat ini harus menjadi ingatan
bahwa itu adalah rumahnya. Tempat asalmu adalah saksi tumbuh dan berkembangnya
mereka dari kecil hingga dewasa. Sehingga sudah selayaknya buat para perantau
untuk mampu berkontribusi untuk pembangunan tempat asalnya. Jika memang sudah
ada jenjang karir di tanah rantau yang lebih baik, tentu kita harus tetap
mengalokasikan kehidupan kita untuk mampu membantu tempat asal kita, begitupun
dengan perantau yang berasal dari desa.
Desa
bukanlah wilayah yang mungkin tidak banyak institusi pendidikan yang lebih
berkualitas daripada kota, namun desa tetap dibutuhkan sebagai kawasan yang
akan mejadi objek riset institusi pendidikan di kota. Masyarakat desa juga
mungkin tidak memiliki karakteristik glamor dan hedonis seperti di kawasan
kota, namun masyarakatnya akan punya cara tersendiri dalam membuat kebahagian
dalam hidup. Artinya baik desa maupun kota sama saja, akan tetap ada kelebihan
dan kekurangannya. Tinggal bagaimana kita melihat dari sudut pandang seperti
apa untuk bisa memaksimalkan potensi yang ada.
Memang
pada umumnya, desa memiliki roda perekonomian dengan basis agraris. Siklus
perekonomiannya berpacu pada pengolahan sumber daya alam meliputi pertanian, perikanan,
hingga peternakan. Namun, bisakah desa dikembangkan dengan hal lain?tentu
sangat bisa. Para pelajar dari desa yang merantau ke kota tentu akan lebih
paham tentang hadirnya industri kreatif. Industri yang berbasis pada ide dan
gagasan sebagai ekosistem perekonomiannya sangat berpotensi untuk generasi muda
di desa. Industri kreatif memiliki beberap subsektor yang terdiri dari pengembangan
permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk,
fashion, kuliner, film dan animasi, fotografi, desain komunikasi visual,
televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi
ini bisa menjadi kegemaran baru buat pemuda di desa. Dengan begitu, dalam tahap
pengenalan kegemaran baru yang dapat meningkatkan kreativitas tidak perlu jauh
merantau terlebih dahulu. Cukup hadirnya program dan pembangunan infrastruktur
sederhana demi merintis ekosistem industri kreatif di desa.
Di
masa yang akan datang, desa akan semakin berbasis digital sebagai upaya pemasaran
produk desa yang lebih luas. Artinya, potensi lapangan kerja di desa akan
semakin besar. Maka dari itu, konsep migrasi dan merantau harusnya mulai secara
perlahan dirubah. Bukan lagi hanya terpusat dengan pola dari desa ke kota, tapi
bisa dari desa ke desa atau bahkan dari kota ke desa. Meskipun era industri
semakin berubah kea ranah manufaktur atau sektor non agraris, kita sebagai
manusia yang lahir dan besar di Indonesia harus sadar bahwa identitas tanah
Nusantara ini adalah agraris. Mari mulai berfikir dan merencanakan untuk bisa
membangun desa untuk meningkatkan kesejahteraan yang menjadi impian luhur yang
akan selalu di perjuangkan.
Komentar
Posting Komentar