Technic Series : Sistem of Rice Intensification (SRI)

 

Hallo Everyone! Semoga selalu dalam keadaan bahagia dan sehat walafiat, aamiinn. Nah di awal tahun 2023 kali ini, saya akan bercerita tentang sebuah sistem dan teknik dalam menanam padi yang dapat meningkatkan hasil produktivitas. Yups, namanya adalah Sistem of Rice Intensification atau sering di singkat dengan sebutan SRI. Sistem ini merupakan sistem yang keren banget karena bisa menghemat air dan biaya produksi padi secara keseluruhan. Selain itu, sistem ini sangat mengandalkan bibit berusia muda. So, jadi seperti apa sejarah dan dampak yang telah di rasakan dengan adanya sistem SRI ini? Yu mari kita simak tulisan selanjutnya!

 

Sejarah SRI

Semua di mulai pada tahun 1980an, saat itu seorang pastur dengan nama Father Henry de Launie yang telah menghabiskan hidupnya selama 34 tahun menjadi petani di Madagaskar. Mengamati dan melakukan eksperimen tentang membuat bagaimana budidaya bisa memiliki penggunaan air yang hemat. Hasilnya, keberhasilan tentang metode yang di prakasainya terjadi pada tahun 1983-1984. Berlanjut pada tahun 1990, sebuah LSM Malagasy yaitu Asociation Tefy Saina (ATS) mulai mengenalkan sistem SRI. 4 tahun telah berlalu, salah satu organisasi pengembangan sktor pertanian yaitu CIIFAD(Cornell International Institution for Food, Agriculture and Development) melakukan kerjasama dengan ATS untuk mengenalkan SRI di Ranomafana National Park yang berada di wilayah Madagaskar Timur. Penambahan dukungan dari US Agency for International Development membuat SRI telah melakukan pengujian dengan hasil yang positif di India, Indonesia , China, Sri Langka, Bangladesh, hingga Filipina. (muttakin, 2007 dalam Dennie, 2012)

Bagaimana perkembangannya di Indonesia?

Penerapan sistem SRI di Indonesia telah di mulai sekitar tahun 2000an. Kekhwatiran sistem pertanian modern yang di terapkan di Indonesia saat itu menjauhkan Indonesia dari sistem yang ramah lingkungan. Padahal, sistem pertanian tradisional yang telah turun temurun tersebut mampu menjaga warisan tanah dan air bangsa Indonesia. Hadirnya Sistem SRI diharapkan mampu menjadi penyeimbang antara kebutuhan ekspansi ekonomi dan kelestarian lingkungan. Pada awalnya, sistem yang di perkenalkan melalui Dewan Pemerhati kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) ini memulai penerapannya di Jawa Barat. Seiring perkembangannya, metode ini diterapkan sesuai karakteristik daerahnya masing-masing (Pertanianku.com).

Apa bedanya dengan sistem konvensional?

Apa yang membuat sistem SRI ini terasa istimewa? Jika pada sistem konvensional penanaman padi dilakukan dengan sama rata antar baris dengan jarak tanam sekitar 40 cm x 40 cm , sistem SRI memiliki kepadatan sekitar 25 cm x 25 cm hingga 30 cm x 30 cm. selain itu, penggunaan air yang intermiten dapat menghemat volume air yang tersedia. Prioritas penggunaan pupuk organik juga membuat sistem SRI lebih ramah lingkungan namun dengan hasil produksi yang bisa lebih besar secara kuantitasnya.

Lebih hemat air, bagaimana dengan komponen budidaya lainnya?

Hematnya penggunaan air dengan sistem SRI juga berdampak pada efisiensi komponen produksi lainnya. Dalam aspek kebutuhan benih, sistem konvensional memerlukan sekitar 25 Kg/Ha. Sedangkan dengan model sistem SRI benih hanya membutuhkan sekitar 5-7 Kg/Ha (sampulpertanian.com). dengan prioritas pupuk organik, metode SRI minim penggunaan pupuk kimia jika tidak terlalu di butuhkan jika bukan untuk kepentingan mendesak. Dengan semua komponen utama yang sudah memiliki efisiensi dalam penggunaannya, beberapa komponen lainnya juga pada akhirnya memiliki penggunaan yang lebih minim dibandingkan sistem konvensional.

Menambah jumlah produksi, bagaimana dengan tingkat kualitas ?

Tentunya sudah tidak diragukan lagi, orientasi pupuk organik pada sistem SRI ini menjadikan kualitas beras yang dihasilkan akan lebih memiliki nilai gizi yang lebih baik. Karbohidrat yang menjadi kandungan identik pada beras akan lebih mudah terurai dalam sistem pencernaan. Selain itu, nutrisi dan mineral lain yang melengkapi kandungan beras akan lebih tinggi. Hasilnya, tingkat kesehatan dengan mengkonsumsi beras hasil metode SRI akan lebih tinggi sehingga terhindar dari berbagai macam penyakit. Untuk kalian yang sedang melakukan program diet, beras yang dihasilkan dari sistem organik akan membantu suksesnya target diet yang ingin di capai.

Sistem SRI untuk masa depan Indonesia

Secara historis yang begitu panjang tentang bagaimana warisan keilmuan pertanian dari nenek moyang yang turun temurun, metode SRI merupakan hal yang akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan lingkungan Indonesia di masa depan. Totalitas konsumsi pada produk organik yang sulit karena tuntutan kebutuhan beras yang tinggi membuat beras yang di produksi dengan zat kimia mendominasi pasar, kini seharusnya bisa beralih secara perlahan dengan adanya sistem SRI. Keuntungan jangka panjang berupa aspek kesehatan yang lebih baik dan lingkungan yang akan lebih lestari merupakan point utama yang menjadi pertimbangan beralihnya proses produksi dan konsumsi secara anorganik ke sistem organik. Dengan begitu, pondasi kedaulatan pangan dimana beras yang menjadi bahan pangan pokok masyarakat umum di Indonesia akan semakin kuat demi terciptanya keutuhan Negara berdaulat.

 

Daftar Pustaka

 

1. Mahmudah et al (2012). Mata Kuliah Pengantar Ekonomi Pertanian : PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI PERTANIAN DENGAN METODE SRI (System of  Rice Intensification). 1-8. https://id.scribd.com/doc/95634821/Sejarah-System-of-Rice-Intensification#

2. https://www.pertanianku.com/latar-belakang-terciptanya-system-of-rice-intensification-sri/

3. https://www.sampulpertanian.com/2017/06/perbedaan-metode-sri-system-of-rice.html

 

Komentar