potensi daur ulang kertas untuk pengembangan industri kreatif bersama Royal Golden Eagle

 

Theme : Sustainable Living With Royal Golden Eagle

Subtopic : Paper Upcycling

Kertas telah menjadi bahan yang begitu penting dalam perjalanan panjang peradaban umat manusia. Kegunaannya yang begitu vital untuk berbagai hal membuat kertas masih memiliki eksistensi di era modern. Dahulu kala, pemanfaatan kertas sangat identik dengan diplomasi antar kerajaan. Kertas menjadi medium untuk penyampaian pesan secara tertulis dari suatu kerajaan kepada kerajaan lain. Bukan hanya itu, beragam agama telah mengabadikan wahyu ilahi kedalam buku dengan kertas terstruktur. Sampai saat ini, fungsi itu masih ada meskipun saat ini semua sudah serba digital.

Memasuki abad ke 21, peran kertas masih mendominasi sebagai kebutuhan dasar dari siklus aktivitas kehidupan masyarakat. Kegiatan seperti belajar dan mengajar di sekolah,rutinitas di kantor, hingga kebutuhan administratif pada tataran birokrasi, semua itu masih membutuhkan kertas. Hadirnya sistem digital belum sepenuhnya dapat menggantikan peran kertas. Entah sampai kapan kertas akan menjadi bahan pokok untuk penunjang siklus di segala sektor, namun seiring dinamika dan pertumbuhan penduduk dunia membuat kebutuhan kertas terasa akan masih meningkat.

Seperti kata pepatah, segala sesuatu yang berlebihan akan tidak baik hasilnya. Akan ada masa dimana apabila sumber daya alam seperti kayu jika terus diolah menjadi kertas baru, maka ekosistem lingkungan bisa terganggu dan mengalami kerusakan yang sulit diperbaiki. Hal ini harus mulai di antisipasi mengingat kayu tidak bisa tumbuh secara cepat untuk mencapai standar sebagai bahan kertas. Meskipun kecepatan pertumbuhan bahan penghasil kayu untuk kertas seperti pohon cemara dan janga mungkin bisa dipercepat dengan asupan kimiawi, namun tetap saja bila terlalu berlebihan akan mengakibatkan kualitas lingkungan mengalami degradasi.

Sebuah sistem untuk mendaur ulang kertas nampaknya menarik untuk dijadikan pembahasan dalam upaya hadirnya solusi. jika daur ulang sampah plastik sudah menjadi hal yang biasa ditemukan, melakukan daur ulang pada kertas nampaknya akan menjadi kegiatan yang menarik untuk dirintis. Dilansir dari kemenperin.go.id, Kementrian Perindustrian terus mendukung hadirnya  ekonomi sirkular pada bahan kertas. Berdasarkan catatannya, kebutuhan kertas daur ulang di tahun 2018 mencapai 8,6 juta ton. Selain itu, kebutuhan kertas di pasar global mengalami laju peningkatan sebesar 2% per tahun. Hal tersebut terjadi karena kertas masih menjadi bahan yang menjadi prioritas dalam media pengemasan. Hasil penelitian juga menyimpulkan tentang potensi dari sumber serat baru yang terdapat di Karton Bekas Minuman(KBM). Bahan yang terdiri dari 6 lapisan ini memiliki 74% serat, 21% Low Density Polyethylene(LDPE) dan 5% alumunium foil ini bisa dimanfaatkan menjadi bahan kertas alternatif.

Berdasarkan penelitian tersebut, nampaknya potensi daur ulang kertas akan semakin banyak dilakukan demi kelangsungan hidup berkelanjutan. Namun masalahnya, akan dikelola menjadi seperti apa produk hasil dari daur ulang tersebut? karena jika semakin banyaknya pengelolaan daur ulang kertas dilakukan, maka alur untuk menciptakan produk dari bahan hasil daur ulang tersebut harus mulai dipikirkan. Maka dari itu, penulis berpandangan bahwa akan ada potensi yang memiliki prospek bagus jika bahan hasil daur ulang kertas dapat di implementasikan terhadap pengembangan industri kreatif. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Menurut Rochmat Aldy (2016), Ekonomi kreatif adalah suatu konsep untuk merealisasikan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan berbasis kreativitas. Pemanfaatan sumber daya yang bukan hanya terbarukan, bahkan tidak terbatas, yaitu ide, gagasan, bakat atau talenta dan kreativitas. Dalam industri kreatif, ada banyak subsektor yang dapat dikembangkan. Dikutip dari kemenparekraf.co.id, Subsektor tersebut adalah animasi,pengembangan permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fashion, kuliner, film, animasi dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi. Menurut Cindy Valenci et al (2019) menyatakan bahwa industri kreatif adalah salah satu sektor yang memberikan kontribusi cukup tinggi bagi perekonomian nasional. Data statistik ekonomi kreatif Indonesia menyebutkan bahwa sejak 2010 hingga 2015, besaran PDB ekonomi kreatif mengalami kenaikan rata-rata 10,14% setiap tahunnya, yaitu dari Rp. 525.96 triliun menjadi Rp. 852.24 triliun. Nilai ini memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional berkisar 7,38% sampai 7,66%, yang didominasi oleh tiga subsektor, yaitu kuliner dengan 41,69%, fashion 18,15%, dan kriya 15,70%.

Dengan mengacu pada data tersebut, beberapa subsektor dari Industri kreatif akan memerlukan bahan untuk mendukung pertumbuhan subsektornya seperti desain interior dan produk, fashion, kriya, dan penerbitan. Beberapa subsektor tersebut akan memiliki peluang besar untuk menjadikan bahan daur ulang kertas sebagai bahan bakunya. Jika bahan daur ulang kertas tersebut sudah memiliki exposure atau branding sebagai upaya dalam melestarikan alam, bukan tidak mungkin para pelaku industri kreatif akan menjadikannya sebagai bahan dan komponen prioritas dalam setiap karya yang ingin diciptakan.

Jika dibedah secara spesifik, mungkin subsektor desain interior, desain produk dan kriya akan menjadi bahasan yang menarik jika melihat peluangnya dalam upaya penggunaan bahan daur ulang kertas. Dengan beragam imajinasi dan kreativitas berbeda dari setiap individu membuat sebuah desain yang ingin direalisasikan bisa menjadi nyata. Kebutuhan akan ornamen dan hiasan rumah yang menarik, bahan event di sebuah pesta dengan model ramah lingkungan, acara keagamaan, hingga event dalam momentum kenegaraan, semua itu menjadi peluang yang nyata untuk kehidupan berkelanjutan bila bahan daur ulang kertas bisa menjadi bahan prioritas dan mampu dikreasikan secara kreatif.

Selain desain interior, subsektor fashion tentu memiliki peluang yang tidak kalah menarik. Hal tersebut berdasarkan bahwa subsektor fashion akan punya sebuah masalah yang sangat berbahaya di muka bumi. Dikutip dari aprayon.com, limbah fashion yang tidak terurai secara hayati begitu dominan. Beberapa kain yang populer seperti Nilon, Poliester, dan akrilik merupakan plastik dan telah ada di tempat pembuangan sampah selama lebih dari satu abad. Apakah sudah terbayang jika bumi di masa depan adalah sebuah tumpukan sampah fashion yang tidak terurai?sungguh hal yang mengerikan. Hadirnya bahan daur ulang kertas seharusnya bisa menjadi fokus para fashion designer dalam pengembangan ekosistem fashion di masa depan. Hal tersebut bisa diupayakan dengan hadirnya kompetisi atau event bertemakan fashion daur ulang kertas secara rutin.

limbah fashion akan menumpuk jika tidak dilakukan daur ulang saat ini

Selanjutnya, subsektor penerbitan menjadi prospek yang bisa dikembangkan dengan lebih paten. Kebutuhan buku untuk kegiatan akademik di berbagai jenjang pendidikan, kertas untuk administratif pemerintahan, hingga kebutuhan kertas terhadap content writer atau penulis buku professional dan pemula begitu besar. Selain itu, masih banyaknya aspek vital yang dipatenkan dengan lembaran kertas seperti surat berharga hingga produksi uang membuat kebutuhan kertas akan terus dibutuhkan.

Sudah ada lima subsektor industri kreatif yang memiliki potensi untuk bisa memprioritaskan daur ulang kertas sebagai bahan utama dalam produksinya. Bagaimana dengan subsektor lain? subsektor lain bisa memerlukan hasil dari produk daur ulang kertas, namun penggunaannya mungkin tidak akan sebanyak empat subsektor yang telah penulis paparkan. Produk dari bahan daur ulang kertas masih bisa menjadi alternatif pilihan sebagai ornamen perhiasan dari ruang studio musik hingga film dan animasi, bisa juga sebagai perhiasan di rumah makan khas daerah.

Selain itu, pentingnya melibatkan subsektor berbasis desain komunikasi visual sebagai media yang menyuarakan tentang pentingnya kehadiran ekosistem daur ulang kertas yang berkelanjutan. Media sosial yang saat ini dipenuhi oleh konten berbasis audio-visual akan sangat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang sistem dan produk dari daur ulang kertas. Para kreator atau influencer dari beragam platform seperti Youtube, Instagram, Twitter, hingga aplikasi Threads yang baru-baru ini hadir akan sangat membantu menyuarakan apa yang menjadi nilai positif dari daur ulang kertas. Menurut Irfan Maulana et al (2020) menyatakan bahwa fenomena sosial media influencer yang sedang marak saat ini memberikan pengaruh yang besar terhadap pola konsumsi masyarakat. Gaya hidup yang lebih memperhatikan prestige membuat masyarakat terbawa oleh arus gaya kekinian yang dipopulerkan oleh para sosial media influencer. Pengaruh influencer saat ini bukan hanya mampu membawa pengaruh pada gaya hidup masyarakat, tetapi juga dapat bermanfaat untuk meningkatkan popularitas sebuah produk usaha dan sebuah topik nasional hingga global.

Selain mengandalkan sistem daur ulang kertas yang masih dalam tahap pengembangan, hal yang paling penting adalah tentang komitmen untuk berkontribusi dalam ekosistem hidup berkelanjutan dari perusahaan atau produsen yang bergerak dalam bidang produksi kertas dengan skala besar, seperti Asia Pacific Resources International Holding Ltd (APRIL). Dilansir dari rgei.com, APRIL yang menjadi bagian dari perusahaan Royal Golden Eagle merupakan salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Dengan hadirnya PaperOne™ sebagai merek unggulannya, produk yang terbuat dari 100% serat perkebunan terbarukan ini telah berhasil menembus pasar di 70 negara. Telah bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di bidang lingkungan, APRIL telah menjadi anggota dari Tropical Forest Alliance 2020 sebagai upaya mendukung sistem yang berkelanjutan. Selain itu, APRIL juga melakukan konservasi 250.000 hektare hutan Nilai Konservasi Tinggi dan bekerja dengan berbagai stakeholder terkait dalam kemitraan publik dan swasta yang disebut Restorasi Ekosistem Riau (RER) untuk merestorasi lebih dari 150.000 hektare lahan gambut di Semenanjung Kampar Indonesia.

Maka dari itu, pihak produsen yang telah menjadikan ekosistem daur ulang kertas dan restorasi hutan harus didukung dari sisi konsumen. Dengan menggunakan produk PaperOne™ dari APRIL merupakan sebuah bentuk dukungan secara nyata. Mari gunakan PaperOne™ dari APRIL untuk masa depan bumi yang lebih baik!

 

produk PaperOne™ dari APRIL

 

Referensi

1. https://kemenperin.go.id/artikel/21821/Balai-Litbang-Kemenperin-Optimalkan-Daur-Ulang-Kertas-Jadi-Bahan-Baku-Industri

2. Aldy Purnomo, Rochmat. (2016). Ekonomi Kreatif : Pilar Pembangunan Indonesia. Surakarta. Ziyad Visi Media.

3. https://kemenparekraf.go.id/layanan/Subsektor-Ekonomi-Kreatif

4. alenci, Cindy et al (2019). RUANG KREATIF DIGITAL, 1(2), 2075-2084.

5. https://www.aprayon.com/en/media-english/articles/why-viscose-fabric-is-the-future-of-the-fashion-industry/

6. Maulana, Irfan et al (2020). Pengaruh Social Media Influencer Terhadap Perilaku Konsumtif di Era Ekonomi Digital, 17(1), 28-34.

7. https://www.rgei.com/id/bisnis-kami/april#business


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Technic Series : Sistem of Rice Intensification (SRI)