Pest Series : Mouse the plant destroyer
Hallo insan pertanian! Kembali lagi di blog
Agrophic.id. kali ini saya akan menuliskan tentang salah satuj hewan yang
sangat mengganggu tumbuh kembang tanaman, baik di sawah, kebun, maupun tanaman
pada halaman rumah kita, yaitu tikus. Si tikus ini merupakan salah satu mamalia
yang hidup di berbagai kondisi lingkungan. Rumah, sawah, tempat pembuangan
sampai, sampai lorong perkantoran tak pernah lepas dari hadirnya kehidupan para
tikus. Jadi, gimana si makhluk ini dan bagaimana cara mengatasi tikus agar
tidak memperluas kerusakan? Mari kita
bahas!
Rekam Jejak si
paling perusak tanaman
Hewan ini termasuk dalam subsuku Murinae dan berasal dari Asia, Namun menyebar ke Eropa melalui perdagangan sejak awal penanggalan modern dan menyebar secara luas pada abad ke-6. Tikus merupakan bagian dari hewan pengerat. Spesies tikus yang paling dikenal adalah mencit (Mus spp.) , tikus sawah (Rattus Argentiventer) dan tikus got(Rattus norvegicus) dimana beberapa spesies tersebut hampir mudah untuk di temukan pada seluruh penjuru dunia. Kebiasaan makan tikus ada yang omnivora dan herbivora, tergantung dimana tikus tinggal dan menikmati kehidupannya. Dalam aspek reproduksi, tikus betina bisa beberapa kali melahirkan dalam waktu satu tahun. Meskipun tikus memiliki rata-rata usia hidup pada umumnya kurang dari dua tahun, hewan ini memiliki potensi reproduksi tinggi dan populasinya cenderung meningkat secara cepat dan bisa menurun secara drastis ketika sumber makanan telah habis. Ini terlihat dalam siklus tiga hingga empat tahun (Wikipedia).
Bagaimana
mekanisme pengendalian tikus?
Mengutip dari pedoman bahas ajar teknis pengendalian
tikus yang di buat Budiono (2022) di Balai Besar Pelatihan Binuang di Kalimatan
Selatan, beberapa mekanisme dalam pengendalian tikus antara lain :
1. Trap Barrier
System
Sistem ini merupakan langkah preventif dengan memasangkan pagar plastik di sekeliling sawah. Tap Barrier System atau yang lebih dikenal dengan Sistem Bubu Perangkap merupakan cara pengendalian tikus sawah yang terbukti efektif menangkap tikus dalam jumlah banyak & terus menerus sejak tanam hingga panen. Jumlah tikus yang tertangkap pada setiap unit TBS dipengaruhi oleh tingkat populasi tikus dan stadia tanaman perangkap. Teknologi tersebut sebenarnya pertama kali diperkenalkan di Malaysia yang diadopsi oleh IRRI sebagai metode Active Barrier System(ABS). Di Indonesia, sistem bubu perangkap telah dikaji sejak 1992 (oleh Ditlin) untuk mampu diterapkan sebagai upaya pengendalian tikus di sawah. Penelitian dan pengembangan lebih lanjut dilakukan Indonesia (oleh BB Padi) yang bekerjasama dengan Australia (ACIAR) sejak 1995 hingga disebut “Community Trap Barrier System” (CTBS). Pengembangan teknologi TBS dilakukan dengan penekanan pada aspek teknis tanaman perangkap, pagar plastik, bubu perangkap, dan penerapannya di tingkat petani pada skala luas. Dalam perkembangannya, CTBS lebih dikenal dengan nama “Trap Barrier System” atau TBS.
2. Pengendalian Hama Tikus Terpadu
(PHTT)
Konsep tersebut pertama kali di bahas pada forum
International Conference on Ecologycally-Based rodent Management di Beijing,
China pada tahun 1998 dan Canberra, Australia di tahun 2002. Konsep PHTT antara
Lain :
1. PHTT
berlandaskan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini,
intensif, dan berkelanjutan dengan melakukan integrasi teknologi pengendalian
yang sesuai dan tepat waktu.
2. Kegiatan pengendalian diprioritaskan pada awal
tanam sebagai upaya menurunkan jumlah populasi tikus serendah mungkin sebelum
terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadia generatif padi.
3.
Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama dan mampu terkoordinasi
dengan cakupan sasaran pengendalian hingga skala luas Organisasi pengendalian:
a. Pelaksana
pengendalian oleh petani atau kelompok tani dikoordinir oleh aparat pemerintah
(kecuali bagi kelompok tani yang sudah mandiri).
b. Programa pendampingan
teknologi pengendalian oleh penyuluh / peneliti.
c. Koordinasi
dan kerjasama antar wilayah apabila kawasan sasaran pengendalian mencakup
wilayah administratif yang berbeda.
d. Koordinasi
dan kerjasama dengan instansi lain yang wilayah kerja atau asetnya merupakan
cakupan kawasan sasaran pengendalian (misal Pertamina, Dinas PU, PT KA dll).
Dikenal perusak, apakah tikus ada gunanya untuk tanaman?
Dalam ruang lingkup pertanian, belum ada penelitian
yang menemukan bahwa tikus memiliki manfaat untuk tanaman, apalagi pada padi. Tikus
memang memiliki peran dalam siklus ekosistem sebagai makanan ular, namun tikus
lebih banyak menghadirkan dampak negatif untuk siklus area sawah. Jika tikus
misalkan mengalami kepunahan, peningkatan produksi padi memilliki peluang untuk
meningkat, namun tentunya populasi ular di sawah akan menurun.
Jadi,
apakah ada manfaat tikus yang memang belum terpublikasi? Mari saling share
pengetahuan untuk menambah wawasan kita!
Daftar
Pustaka
1.
Budiono (2022). BAHAN AJAR TEKNIK PENGENDALIAN TIKUS (Disampaikan Dalam Kegiatan Pelathan Tematik Pengendalian
OPT Tanaman Padi di BPP Kapuas Barat, Tanggal 15-17 Maret 2022), 1-14.
2.
https://id.wikipedia.org/wiki/Tikus

Komentar
Posting Komentar